Kasus Omicron Meningkat, PJJ Jilid 2 Diterapkan
Sudah 2 tahun, pandemi Covid-19 belum juga usai. Banyak sektor yang terdampak akibat pandemi ini, salah satunya sektor pendidikan. Muncul perubahan-perubahan yang tentunya menimbulkan suasana dan masalah baru bagi pelajar di Indonesia. Dimulai dari sistem pembelajaran yang serba online, permasalahan jaringan yang tidak merata antar daerah, dan ketidaksiapan pelajar dalam beradaptasi dengan suasana baru.
Seperti yang
dirasakan oleh pelajar kelas 2 SMA Negeri 47 Jakarta, Syaiful (17)
mengungkapkan bahwa pembelajaran daring membuatnya sulit untuk memahami materi
yang disampaikan oleh guru.
"Kalau daring
susah nerima pelajarannya terus belum lagi kendala jaringan," tuturnya.
Dirinya juga
menilai bahwa pembelajaran paling efektif baginya adalah dengan pembelajaran
tatap muka.
"Lebih
efektif tatap muka. Lebih mudah menerima materi, kalau online kadang
suka sambil tidur atau main game belajarnya," ucapnya.
Awal Februari
2022, Syaiful sempat merasakan sekolah tatap muka, tetapi tak lama setelah
berita kasus Omicron meningkat, sekolahnya kembali menerapkan pembelajaran
jarak jauh atau PJJ.
"Kemarin
sempet offline, 6 Februari 2022, sistemnya seminggu offline
seminggu online, tapi saat ini masih online," jelasnya.
Syaiful juga
mengatakan bahwa dengan adanya pembelajaran tatap muka membuat dirinya mengenal
lebih dekat teman-temannya, dan dapat berinteraksi serta memanfaatkan fasilitas
sekolah.
"Kalau offline
kan ketemu temen jadi enak belajarnya bareng, ngobrol atau nanya-nanya juga
enak. Ngerasain juga ke kantin bareng dan makan di kantin", jelasnya.
Meski sudah 2
tahun pembelajaran daring Ia lalui, nampaknya belum ada titik terang atas
kejelasan kapan kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal seperti sebelum
pandemi. Mengingat permasalahan yang dirasakan Syaiful sangat berdampak pada
daya kerja otak dalam menerima dan memahami materi. Tentunya, ini juga akan
berdampak pada kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi nanti.
Menurut Fernando
Uffie, Pendiri Kelas Pintar menanggapi kebijakan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengenai Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ
diterapkan secara permanen.
“Wacana tersebut
menarik, Kalau saya melihatnya lebih ke PJJ masuk ke dalam sistem pendidikan
Indonesia penggunaannya tergantung dari masing-masing kebutuhan institusi
pendidikan. Platform PJJ harus bisa secara maksimal mengakomodir aspek
pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku. Dengan begitu, kurikulum yang
berlaku bisa terlaksana meski pembelajaran dilakukan secara online," Jelas
Fernando Uffie dalam paparannya secara online dengan Nextren dan media-media
lainnya (15/7).
Pada pembelajaran
jarak jauh atau PJJ tentu bukan hanya pelajar atau mahasiswa saja yang berusaha
memahami materi pembelajaran, namun bagaimana cara guru atau tenaga pengajar
dapat memaparkan materi dengan tepat dan jelas. Syaiful menilai cara mengajar
guru sangat berdampak pada dirinya yang berusaha memahami materi pembelajaran.
“Kadang kalau
gurunya ngajarnya enak, seru, itu jadi gampang nerima materi. Tapi kalau serius
banget dan gak ada interaksi itu malah bikin bosan dan ngantuk,” tuturnya.
Tak banyak yang
bisa dilakukan Syaiful mengingat dirinya akan menginjak kelas 3 SMA dan
kedepannya akan berfokus pada ujian kelulusan serta ujian masuk perguruan
tinggi. Ia hanya bisa berharap pembelajaran jarak jauh yang selama ini
dilaluinya dapat dimengerti dengan baik. Dirinya juga berharap dapat merasakan
kembali pembelajaran tatap muka sebelum tahun kelulusannya tiba.
“Saya berharap
bisa offline lagi, biar bisa ketemu temen-temen, lebih mudah nerima
pelajaran, dan pengen ngerasain masa-masa SMA pada umumnya, biar tidak jarak
jauh terus,” jelasnya.
Syaiful berupaya
untuk tetap terhubung dengan teman-temannya di tengah Pandemi Covid-19 ini
dengan mengikuti ekstrakulikuler, mengadakan pertemuan online, dan tak
jarang berkumpul bersama saat hari libur.
“Biar lebih deket paling saya coba ikut ekskul, karena ekskul saya kan pecinta alam jadi kadang naik gunung bareng, terus sering juga main game online sekalian calling, kalau hari libur saya ngumpul-ngumpul itu juga jarang, yang penting sesekali ketemu aja,” ucapnya.
SK
Komentar
Posting Komentar