Minyak Goreng Langka, Penjual Lauk Pauk Naikkan Harga Jual

Kelangkaan minyak goreng yang melanda Indonesia menjadikan sektor perdagangan sebagai salah satu imbas yang merugikan. Bagaimana tidak, para pedagang gigit jari mencari minyak yang kian sulit ditemukan. Kelangkaan minyak ini juga berujung pada kenaikan harga jual yang tidak sedikit, sangat sulit diterima oleh konsumen.


(liputan6)

Kelangkaan minyak goreng terus terjadi hari demi hari dan tidak ada yang tahu akan berakhir kapan. Para pedagang sibuk mencari cara bagaimana agar tetap bisa menghasilkan pangan dengan keadaan yang sulit tersedianya minyak goreng saat ini. Hal serupa terjadi pada penjual gorengan dan lauk pauk yang berada di Pasar Bintaro Sektor 2. Ibu Nur (Pedagang) menilai kelangkaan minyak goreng sangat berimbas pada dagangannya.

"Kelangkaan minyak ini berefek banget bagi saya sebagai pedagang. Karena sebagian besar dagangan saya masaknya pakai minyak," ujarnya pada Sabtu (26/2).

Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan para pedagang selain menaikkan harga jual atau memilih untuk mengganti dagangannya. Namun opsi kedua sepertinya sulit untuk dilakukan para pedagang terlebih jika sudah memiliki pelanggan.

"Saya naikkan harganya seribu dua ribu per lauk. Seperti ayam goreng kan butuh minyak, telur balado juga perlu minyak, apalagi gorengan kan. Semua itu butuh minyak yang gak sedikit. Kalau gak saya naikkan harganya, ya saya rugi di minyak," jelasnya.

Menindaklanjuti solusi yang dilakukan oleh Ibu Nur selaku pedagang. Tentu erat kaitannya dengan konsumen atau pelanggan. Beliau menilai, tak jarang para konsumen merasa keberatan jika harganya dinaikkan.

"Ada yang setuju, ada yang engga. Ada juga yang nanya kenapa harganya naik, saya jawab karena minyaknya langka," ungkapnya.

Menanggapi hal seperti ini tentu tidak mudah bagi seorang pedagang menengah yang mengharapkan pundi-pundi rupiah dari para pelanggan dan konsumen. Tak banyak memang yang dapat dilakukan mengingat situasi yang tidak pasti ini, terlebih umpan balik dari masyarakat sangat terlihat belum siap untuk menerima hal tersebut.

Kenaikkan harga jual yang dilakukan Ibu Nur juga tak selamanya dapat diterima oleh konsumen. Bahkan beliau mengatakan bahwa sulit sekali merespon konsumen yang keberatan jika harga dinaikkan. Namun beberapa konsumennya dapat menerima hal tersebut.

“Ya kadang kalau pembelinya gak suka harganya naik, saya cuma bisa diam. Mau maksa beli juga ga mungkin, kan? Jadi ini (kelangkaan minyak goreng) berpengaruh terhadap penghasilan saya kalau pembelinya gak siap harga naik. Tapi beberapa juga ada yang setuju karena sudah paham situasinya,” jelasnya.

Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rossanto Dwi Handoyo, SE., MSi., PhD melalui laman resmi Unair menilai, kelangkaan minyak goreng disebabkan oleh harga minyak nabati yang kian melambung, Pemerintah merencanakan program B30 yaitu program pemerintah untuk mewajibkan pencampuran 30 persen diesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar, lalu Pandemi Covid-19 yang belum selesai, dan Proses distribusi dan logistik yang tidak merata pada tiap daerah.

"Minyak goreng merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Berdasarkan IHK (Indeks Harga Konsumen) Indonesia, minyak goreng memiliki kontribusi yang besar. Hal tersebut karena minyak goreng merupakan salah satu barang yang dikonsumsi masyarakat setiap harinya. Bobot terhadap inflasinya juga cukup tinggi, oleh karena itu dampaknya juga akan lebih terasa terhadap inflasi terutama dari segi IHK," Jelasnya.


SK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miris, Ini Perbedaan KRL Zaman Dulu dan Sekarang

Kata Mereka Tentang Film KKN di Desa Penari

Cuaca Panas Bikin Haus? Segarkan Dengan 5 Minuman Ini