Kisah Bertahan Hidup Seorang Pedagang Kecil Saat Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 secara tidak langsung mematikan sektor usaha masyarakat kecil. Mulai dari lockdown atau penutupan akses jalan, lalu perusahaan yang melakukan PHK, dan ketidaksiapan masyarakat menengah dan bawah dalam berevolusi online. Seribu cara dilakukan agar perekonomian mereka tidak terombang-ambing, namun naas, di samping memikirkan cara bertahan hidup, rupanya pandemi Covid-19 juga merebut orang terkasih yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Katering Nasi Box (Dok. Pribadi)

Hal ini kerap dirasakan oleh Ibu Ati selaku pengusaha katering makanan nasi box, beliau mengungkapkan bahwa Pandemi Covid-19 ini membuat dirinya berpikir keras bagaimana usahanya akan tetap berjalan.

"Awal-awal Covid, itu usaha saya menurun drastis. Orang-orang masih panik, ketakutan sama virus, kan, sampai katering saya tidak ada yang pesan," ujarnya pada Selasa (1/3).

Melihat 2 tahun ke belakang, di mana masyarakat yang mementingkan kesehatan dirinya sendiri dengan menimbun masker, hand sanitizer, hingga enggan keluar rumah bahkan berlomba-lomba  membuat masakan sehat sendiri.

Ibu Ati nampak kebingungan dengan situasi seperti itu, beliau juga memikirkan bagaimana cara bertahan hidup meskipun usahanya menurun drastis.

"Tidak banyak yang bisa saya lakukan saat itu, tetapi saya tetap jualan kecil-kecilan di depan rumah, saya share juga ke whatsapp," ujarnya.

Dua hingga tiga bulan selanjutnya merupakan hal terberat bagi Ibu Ati, terlebih pembelajaran sekolah yang online, kuota internet yang diperlukan anak Ibu Ati sangat membuatnya terbebani.

"Belum lagi anak beli paket internet buat sekolah, seminggu bisa Rp50.000, padahal pendapatan kami belum besar banget. Itu keadaan yang sulit sekali," tuturnya.

Ibu Ati menuturkan pendapatannya sangat berkurang, terlebih suami Ibu Ati juga berkecimpung pada katering seperti beliau.

"Pendapatan kalau dihitung perbulan itu, kurang lebih menurun 70%. Bahkan untuk modal lagi selalu kurang. Karena tidak bisa mengandalkan katering, jadi saya buka jualan kecil-kecilan di depan rumah, ya lumayan memang, para tetangga yang beli," ungkapnya.

Meski telah bertahan dengan mengandalkan warung kecilnya, pendapatan Ibu Ati kian melambung walau hanya beberapa persen saja.

“Karena saya tidak pernah libur warungnya, setiap hari Sabtu dan Minggu itu selalu ramai, banyak yang beli lauk dan nasi ke saya. Bahkan karena pandemi ini, banyak yang kehilangan keluarganya, saya sempat dipanggil untuk membuatkan makanan tahlilan. Bersyukur sekali walaupun kabar tersebut kabar duka,” tuturnya.

Beliau juga mengatakan bahwa pendapatannya sempat menaik saat bulan Ramadhan.

“Kalau bulan Ramadhan saya jual takjil, gorengan, kue-kue, alhamdulillah pendapatan saya bertambah, saya juga tidak berjualan di depan rumah, tapi di tempat yang ramai penjual. Butuh biaya besar, itu, modal dan harga sewa tempat yang lumayan besar,” ujarnya.

Ibu Ati juga mengatakan bahwa bulan Ramadhan merupakan pendapatan terbesar baginya selama Pandemi Covid-19 ini.

“Kalau dhitung itu lumayan besar sekali ya. Bulan itu (Ramadhan) Saya mulai kebanjiran pesanan takjil, makanan sahur, bahkan kue-kue lebaran sampai opor ayam, ketupat Ramadhan,” jelasnya.

Meski harus melewati masa sulit yang panjang, namun dengan kegigihan serta ketekunan yang Ibu Ati jalani, mampu memberikan pengalaman dan pendapatan yang tak pernah disangka sebelumnya bahkan di masa pandemi seperti ini. Kini, beliau tetap berjualan di tempatnya berjualan takjil, beliau juga membuka pesanan katering untuk sedikit demi sedikit memperbaiki perekonomiannya.

“Sekarang, buka pesanan iya, jualan juga iya. Apa saja saya kerjakan. Selagi menghasilkan dan saya mampu,” ungkapnya.


SK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miris, Ini Perbedaan KRL Zaman Dulu dan Sekarang

Kata Mereka Tentang Film KKN di Desa Penari

Cuaca Panas Bikin Haus? Segarkan Dengan 5 Minuman Ini